SPONS PENCUCI PIRING

Sore ini dia bercerita lagi dari balik layar nyata kehampaan ini
Dia menemuiku dan berucap kalimat yang sendu
Ia sedang bersedih dengan pesona yang tetap tak pudar di hadapanku
Ia bersedih dengan resahnya yang tak kunjung terobati
Seperti biasa, seperti detak detik sebelumnya
Aku tak mampu berucap dan hanya berdiam
Aku hanya ingin seperti spons pencuci piring
Mengusap dan meresapkan semua keluhnya
Membersihkan setiap peluhnya
Kamu tahu, aku adalah spons
Jika sampai pada titik batasnya
Maka aku harus diperas untuk dapat lagi meresap lukanya
Inilah cara mengurangi beban didalam tubuh spons
Menulis adalah cara terbaikku
Aku merdeka, karena setiap kata itu merdeka
Dengan beban yang menetes dari setiap pori spons
Aku juga mencoba mengikhlaskan
Mengikhlaskan rasa yang dia miliki untuk sosok lain
Tahukah engakau, kisah ini terulang dengan cara yang sama dengan sosok yang berbeda
Meski tak identik, ini cukup mengingatkanku tentang pesona yang dulu pernah ada yang kini mulai memudar
(Makassar, 6 Januari 2013: 17.41)
Diatas kasur berselimut kain merah,
Masih dengan suara rintik hujan sebagai musik pengiring.

WHO ARE YOU?


???

Anggap dia hanya sebuah nama yang berdiri dihadapanmu,
Engkau menatapnya penuh telisik
Mencoba mencari hal apa yang dia miliki berbeda dari yang lainnya
Engkau hanya tersipu, engkau tak tau apa yang berbeda
Namun bibir dan hatimu tak bisa menyembunyikan satu hal
Engkau bahagia bisa melihatnya

Jauh hari engkau masih sering tersipu sendiri
Entah apa yang terjadi
Bayangan tentang nama itu sering muncul di hadapanmu
Orang-orang disekitarmu akan menganggap kamu gila
Namun kamu hanya memberikan spekulasi yang mereka tak mau terima
Engkau tetap saja tersenyum

Semakin jauh engkau mulai mencari sosok pemilik nama itu
Mencari dirinya yang utuh
Engkau membuka risalahnya
Mencoba menjadi separuh dari hidupnya
Engkau terus mencari
Kini engkau benar-benar ingin bersatu dengan hidupnya

Suatu ketika engkau melangkah lebih jauh lagi
Engkau menemukan sisi lain dari pemilik nama itu
Dia memiliki catatan biru di masa lalunya
Dia tak pernah bercerita padamu
Engkau hanya akan menemukannya jika engkau benar-benar ingin menjadi bagian dari catatannya kelak
(Makassar, 5 Januari 2013, 13:46)
Bersama nyanyian merdu rintik hujan di atas atap rumah,
Sedikit ngantuk,
Namu hatinya tidak mengizinkan dia tidur,
Hatinya memaksa untuk menuliskan banyangan tentang sosok itu,
Dia sudahi, dia harus shalat.

SALAM DARI SEMUT


Pagi ini saya mendapatkan salam dari semut, gigitan disudut mata yang menjadi salam yang paling berkesan menyambut pagi dengan segala rutinas yang akan di temui.
Salam yang menjadi alasan sang semut pun marah melihat saya tidak bergegas untuk bersegera menyambut hari ini, belajar dengan serius, karena beberapa jam lagi saya akan  ujian final praktikum kimia, namun apa yang aku lakukan, saya masih berguling-guling di atas kasur, sesekali hanya melihat materi ujian, sungguh memprihatinkan, mungkin itu pun yang dirasakan semut-semut di sudut kamarku, salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menegurku, walau harus mempertaruhkan nyawanya, ia tetap berani memberikan sedikit sentuhan di sudut mataku, alhasil, salamnya yang berkesan itu masih tersimpan hingga jam ini, mataku bengkak sebelah, mungkin akan terpajang di mukaku beberapa jam lagi.
Bukan itu yang menjadi inti ceritaku hari ini, pesan dari semut itu, sangatlah dalam. Seandainya saya dapat memutar waktu, akan kugunakan dengan serius belajar, hingga saya mampu menjawab soal dengan baik. Seandainya saya tidak menghiraukan salam dari semut, saya mampu tersenyum bahagia keluar dari pintu kelas ujian tadi. Seandainya dan seandainya, semua tinggal penyesalan.
Lotus, jangan malas lagi, bergegaslah, semut pun marah melihatmu bermalas-malasan.
Untuk teman lain, salam dari semut juga untuk kalian.

AKU BAHAGIA

karena bahagia itu milik kita
karena bahagia itu tak memiliki batasan
karena bahagia itu tak dapat dinilai
karena bahagia itu merdeka
senyum lebar terpatri diwajahmu
kerutan manis disetiap sudut bibirmu
pipi merona memancar dengan hangatnya
mata indah tebarkan semangat
ku sampaikan padamu, bahwa aku bahagia bisa mengenalmu

cukup engkau paham, dan tak berhenti bermimpi
maka bahagia itu tak akan pudar dari genggamanmu


masih hangat semangat mereka, kisah 5cm.

KARENA SETIAP KATA ITU MERDEKA


Alur yang merambah pelan meniupkan aroma kekufuran untuk mereka yang tak paham tetang apa yang mereka ketahui.
Perlahan namun pasti, tumbuh kader-kader bak jamur dimusim hujan yang perlahan menyeruak namun tak kokoh, hanya semusim! Tidak mandiri! Membuat hidup bergantung pada hidup orang lain.
Inikah yang diimpikan demokrasi? Inikah yang diimpikan revolusi? Puaskah kita? Apakah ini sebuah karma? Makan diri sendiri! Hidup menelan ludah!
Sedikit pemberontakan, karena setiap kata itu merdeka!
Masihkan kita mengingat warna bendera sendiri? Masihkah kita mengenal ibu pertiwi sendiri?
Inikah yang dicita-citakan bangsa?
Hingga 100 tahu kemerdekaan, proses apakah yang telah kita lalui?
Apak proses masih menjadi bagian yang kita hormati? Masihkah kita mencintai perdamaian? Masihkah kita menghargai perbedaan?
Apaka kesibukan duniawi telah merenggut kita dari sikap menghargai dan tolong menolong terhadap sesama?
Aku rindu negeriku!
Aku rindu negeri yang dulu, negeri yang walau terjajah tetap mendaki kehidupan, negeri yang tetap menghargai perdamaian, negeri yang tetap kuat dalam kelemahannya, negeri yang tetap merdeka dalam jajahannya! Mereka yang rindu, aku pun rindu haruskah kurangkai kata yang lebih jauh lagi agar kalian paham, bahwa aku adalah sosok yang merindukan kedamaian, bahwa aku adalah sosok yang mencintai kearifan, bahwa aku mencintaimu wahai saudara-saudaraku. Jangan ada kebencian diantara kita, hingga sekat yang menjadi membran diantara kita telah kehilangan fungsinya, bersatu dalam kedamaian, bercengkrama dalam do’a, bersatu dalam ikhtar, menjadi pembelajar sejati , tetap berjalan hingga menemukan cahaya, hingga kita dapat menemukan cahaya untuk dapat dibagi kepada yang lain. Berjalan untuk mencapai kesempurnaan. Kembalilah dari tiada ketiada!

perlawanan terhadap serdadu


Puisi terakhir Soe Hok Gie

Pada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Pada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biavra
Tapi aku ingin mati disisimu sayangku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tetapi mati muda
Dan yang tersial adalah bermur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Entah kenapa malam ini saya kembali menjadi melankolis.
Serasa serdadu-serdadu israel sedang menyerang, sedang batin saya adalah para mujahid-mujahid palestina yang siap bertaruh jiwa untuk membela diri. Ingin kuangkat senjata dan ikut bertiarap, memamerkan semangat juang untuk tetap bertahan ditanah ini.
Serasa saya kembali kemasa perjuangan indonesia, ketika tentara-tentara belanda menjajah, muncul jiwa para pemberontak dalam diri, mereka adalah pahlawan yang siap bertumpah darah membela tanah air. Aku ingin ikut meraut bambu bersama mereka, menjadikannya runcing dan menghantamkan pada mereka yang tega merebut ibu pertiwiku.
Serasa saya tertantang untuk menumpahkan seluruh darah dalam nadiku demi mengalahkan dirimu, mengapa engkau begitu tega merebut banyak waktuku wahai rasa malas? Megapa engkau begitu tega mengikis pahalaku wahai rasa kesombongan? Mengapa engkau begitu sangar mengancam masa depanku wahai nafsu duniawi? Ingin kusobek dan remuk kalian hingga tak berbentuk, kuinjak dan kutendang engkau dalam got hitam pekat hinggga engkau akan merasa malu untuk kembali lagi menemuiku. Kuingin mengangkat senjata untuk membunuhmu, kuraut bambu untuk menusuk tubuh. Enyahlah kalian dari hidup, akan kuucapkan selamat tinggal untuk kalian, akan kusambut hari-hari baruku yang indah tanpa sosok-sosokmu lagi.

Assalamualaikum wr.wb

Salam bahagia untukmu kawan :)


Nelumbo nucifera

LOTUS

LOTUS

Blogger news

Takalar Blogger Community

"berjalan"

"berjalan"
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
doakan menjadi perempuan yang amanah dengan tanggung jawabnya, menjadi pembelajar sejati, dan terus berproses hingga kesempurnaan. doakan lotus!